Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2009

Musik Opera Bantu Sembuhkan Penderita Stroke

Satu penelitian menunjukkan bahwa mendengar musik yang tepat bisa melambatkan detak jantung dan menurunkan tekanan darah. Pembuat penelitian inti mengatakan musik opera yang bersifat membangkitkan, seperti Nessun Dorma karya Puccini, yang penuh dengan kresendo dan diminuendo adalah jenis musik terbaik dan bisa membantu rehabilitasi pasien penyakit stroke.

Musik memang sudah digunakan secara holistik di kamar banyak rumah sakit.

Laporan yang dimuat oleh jurnal Ciculation menyebut musik tidak saja murah dan mudah dilakukan, tetapi memiliki dampak terhadap fisik yang kasat mata terhadap pasien dan juga suasana hati mereka.

Musik dengan tempo lebih cepat meningkatkan pernapasan, detak jantung dan tekanan darah, sementara musik bertempo lebih lambat berdampak sebaliknya.

Dr Luciano Bernardi dan rekan-rekan dari Universitas Pavia Italia, meminta 24 sukarelawan yang sehat untuk mendengarkan lima musik klasik yang dipilih secara random dan memonitor reaksi tubuh mereka.

Lagu-lagu yang disediakan antara lain Symphony ke 9 Beethoven, satu lagu dari opera Turandot karya Pucini, cantata No 169 karya Bach, Van Pensiero dari Nabucco dan Libiam Nei Lieti Calici dari opera La Traviata.

Setiap crecendo - peningkatan volume secara bertahap - "merangsang" tubuh dan memperkecil pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, detak jantung dan tingkat pernapasan.

Sebaliknya, diminuendos - penurunan volume secara bertahap - menimbulkan rasa rileks, yang memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah.

Para peneliti ini mempergunakan berbagai kombinasi musik dan kesunyian pada para sukarelawan dan menemukan bahwa lagu yang kaya dengan tekanan yang berpindah antara tempo cepat dan lambat, sepeti musik opera, tampaknya yang terbaik bagi sirkulasi dan jantung.

Aria dari Verdi, yang mengikuti musik sepanjang 10 detik, tampaknya sejalan dengan detak otot jantung alamiah dengan sempurna.

Dr Bernadi mengatakan: "Musik menyebabkan perubahan terus menerus, dinamis - dan bisa diduga - dalam sistem kardiovaskular.

"Penemuan ini menambah pengertian kita mengenai bagaimana musik bisa digunakan dalam pengobatan yang bersifat rehabitasi."

Sumber:http://www.rileks.com/lifestyle/trendz/healthy-life/25031-kesehatansembuhkanpenyakitstroke.html

Senin, 22 Juni 2009

Grup Musik Efek Rumah Kaca Digemari Pengamen

Jumat, 6 Juni 2008 | 13:31 WIB

JAKARTA, JUMAT - Berhubung grup Efek Rumah Kaca (ERK) masuk ke industri musik lewat label rekaman musik indie, distribusi dan promosi album pertama mereka, yang juga berjudul Efek Rumah Kaca (2007), tidak sebesar band-band lain yang bernaung di bawah major label. Meskipun demikian, ternyata single pertama ERK, Cinta Melulu, dikenal sampai ke kalangan pemusik jalanan atau pengamen.

Seorang pemusik jalanan, Noel (22), menjadi salah seorang peserta kuis yang dilemparkan oleh ERK ketika band tersebut manggung di acara Kompas.com Music Corner, Kamis (5/6) sore, di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Pusat.

Dari obrolan di atas pentas terungkap bahwa lelaki yang tinggal di Kalideres, Jakarta Barat, itu sering membawakan lagu Cinta Melulu ketika mengamen dengan menyanyi dan bermain ukulele dari bis ke bis jurusan-jurusan Cengkareng, Grogol, Slipi, dan Cawang. Ketika ditantang oleh para personel ERK--Cholil (vokal dan gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum)--untuk menyajikan Cinta melulu bareng ERK, Noel juga menyanggupinya. "Tadi aku habis ngamen. Terus, aku dikasih tahu temanku ada Efek Rumah Kaca di sini. Ini pertama kali aku nonton Efek Rumah Kaca," ceritanya kepada Kompas.com.

Kepada Kompas.com, ERK, yang dibentuk pada 2001 di Jakarta dan mendapat pengaruh musik utama dari British pop, mengaku kaget sekaligus senang ketika mengetahui bahwa ada lagu mereka yang diakrabi oleh pemusik jalanan. "Surprised, senang, bahkan pengamen juga mengapresiasi lagu itu," kata Akbar, yang bekerja sebagai session player untuk sejumlah grup musik lain yang main di kafe dan hotel. "Berarti, ada orang-orang yang berpikiran seperti kami," timpal Adrian, lulusan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) bidang instrumentasi yang menjadi karyawan sebuah perusahaan bidang kalibrasi. "Apakah itu pertanda bahwa untuk berikutnya kami membutuhkan distribusi yang lebih bagus, lebih luas, untuk album kami yang berikut, perlu dicermati, mudah-mudahan begitu," sambung Cholil, yang ngantor sebagai akuntan. "Sampai saat ini, album Efek Rumah Kaca sudah terjual sekitar 4.000-5.000 copy. Mungkin itu angka penjualan tertinggi untuk Paviliun Records (label rekaman musik indie untuk album Efek Rumah Kaca)," imbuhnya.

Diterangkan oleh ERK, lirik Cinta Melulu merupakan protes mereka terhadap stagnasi yang terjadi dalam industri musik pop dalam negeri dewasa ini, berupa keseragaman lagu pop bertema cinta, khususnya soal perselingkuhan. "Kami enggak anti lagu cinta. Tapi, janganlah cinta melulu. Cinta juga luas, enggak cuma soal selingkuh. Ada banyak cara untuk bercerita tentang cinta," tutur Akbar. "Kami juga punya lagu-lagu cinta, tapi berbeda dari yang kebanyakan," tambahnya.

Dalam album Efek Rumah Kaca, memang ada lagu-lagu cinta. Jatuh Cinta Itu Biasa Saja mengandung pesan bahwa cinta yang biasa lebih sehat daripada cinta buta, sementara Bukan Lawan Jenis berkisah mengenai cinta pasangan sejenis.

Cinta Melulu didengar pertama kali oleh Noel dari sebuah siaran radio. Ia menyukai lagu tersebut karena, "Aku memang sudah muak dengan band-band kita sekarang, yang gitu-gitu saja, enggak jauh berbeda, dengan lagu-lagu cinta melulu."

Walaupun memilih grunge sebagai musik yang paling ditekuninya, Noel, yang membentuk tiga grup yang belum masuk industri musik ini menyukai Cinta Melulu. "Lagu itu simpel tapi dalam," ujar pria yang mengaku bahagia bisa main bareng ERK dan mendapat hadiah kuis berupa CD album Efek Rumah Kaca ini.


Sumber:http://www.mcarmand.co.cc/2009/06/grup-musik-efek-rumah-kaca-digemari.html

Sabtu, 20 Juni 2009

Netral OST



Pada hari minggu, tanggal 14 Juni 2009 bertempat di Bioskop Blitz Megaplex yang berlokasi di mall Grand Indonesia, Jakarta, dilakukan Grand Launching Film "Garuda di dadaku".
Acara ini dihadiri semua pendukung film tersebut mulai dari sutradara, aktor dan aktrisnya serta semua yang terlibat dalam film ini, termasuk juga netral yang menggarap Original Soundtrack dari film ini. Pada acara ini Netral membawakan 3 buah lagu baru yaitu ; Garuda di dadaku, Hari Merdeka , dan Cipta Karya Jaya Rasa. Netral mendapat sambutan yang meriah dari semua undangan yang hadir untuk menonton film tersebut. Mulai dari lagu Garuda di dadaku yangpenampilan kali ini dibawakan netral dengan tambahan perkusi yang membuat lagu ini jadi lebih megah. Perwakilan dari Kancutlizer Jakarta dan Palabatulizer tangerang juga hadir dalam acara Launching ini, sambil menyaksikan penampilan netral siang itu, mereka juga ikut menyaksikan pertujukan film perdana "Garuda di dadaku". Selesai acara penonton tampak puas menghadiri acara ini, karena selain dimeriahkan oleh konser musik yang menarik, mereka juga bisa menyaksikan pertunjukkan film yang sangat mendidik dan membangkitkan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara.Tidak seperti film-film Indonesia yang banyak beredar saat ini yang selalu mengutamakan bumbu horror dan suguhan lain yang kurang mendidik. Film ini sendiri akan beredar di seluruh bioskop=bioskop di Indonesia mulai tanggal 18 Juni 2009. So, dont miss it !

Sumber:http://netralstudio.blogspot.com/2009/06/netral-ost.html

Kamis, 18 Juni 2009

single kedua slank


“Akulah si burung merpati/ Ribuan kilo kucari/ Terbang tinggi hanya tuk kembali…”

Kalimat di atas adalah penggalan lirik dari lagu “Monogami”, dari album Original Soundtrack film Generasi Biru. Lagu yang diciptakan Bimbim ini menggambarkan tentang sebuah kesetiaan cinta. Sebagaimana kita ketahui burung merpati merupakan lambang kesetiaan cinta. Kemana pun, sejauh apa pun merpati jantan terbang, pasti ia akan kembali untuk sang betina.Menyusul kesuksesan single pertama “Slank Dance” yang liriknya mengajak kita untuk tetap semangat, Slank memilih “Monogami” menjadi single kedua. Tema cinta menjadi kekuatan lagu ini. Tetapi karakter Slank yang kuat tetap memberi warna tersendiri pada lagu tersebut. Cara Kaka bernyanyi juga sangat rileks. “Monogami” hadir dengan aransemen yang bisa dibilang minimalis untuk ukuran lagu-lagu Slank. Karena lirik lagunya sendiri sudah kuat. Lirik ini yang menjadi ‘racun’ utama dari “Monoga

Sumber:http://netralstudio.blogspot.com/2009/06/single-kedua-slank.html

Rabu, 10 Juni 2009

6 Gitaris Top Indonesia


Ian Antono atau lengkapnya Jusuf Antono Djojo adalah seorang musisi gitar handal yang kini bermain untuk grup musik God Bless, pinpinan Ahmad Albar. Namun begitu, kesuksesan Ian dilaluinya melewati Gong 2000, Sapta Nada, Bentoel Band dan AKA Band. Sebelum akhirnya mendarat pada grup yang kini ditinggal vokalisnya akibat kasus narkoba itu.

Lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950, Ian pertama kali bergabung dengan musisi Abadi Soesman, sebelum kemudian pada 1970 hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Bentoel Band. Baru pada 1974, Ian resmi menjadi gitaris God Bless, dan merilis album seperti Huma Di Atas Bukit (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1989). Dia juga sempat berduet dengan gitaris rock Eet Sjahranie dalam memainkan lirik God Bless.

Di tengah aktifitasnya di God Bless, Ian Antono juga aktif di Gong 2000 dan merilis album Bara Timur (1991), Laskar (1994) dan Prahara (1996). Kemampuan Ian di dunia musik seperti menjadi jaminan, dirinya tercatat pernah bekerja sama dan mengantarkan sukses album bagi Iwan Fals, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gito Rollies, Ebiet G Ade, Ikang Fawzi dan lain-lain.

Sosok Ian Antono tidak bisa dipisahkan dari percaturan musik rock Indonesia. Kepiawaiannya memainkan gitar patut diacungi jempol. Melodi yang dimainkan begitu kuat dan berkarakter. Tak heran jika dia banyak menjadi sumber inspirasi bagi para grup band khususnya gitaris muda Indonesia. Bersama grup God Bless dan Gong 2000 Ian ikut andil dalam mewarnai perwajahan musik rock tanah air. Ian Antono secara mumpuni tak hanya sebagai gitaris tetapi juga arranger, komposer, dan produser. Nicky Astria dan Anggun C Sasmi adalah lady rocker yang lahir dari tangan dinginnya.

Kini sudah lebih dari tiga dasa warsa musisi yang dijuluki "Dewa Gitar Indonesia" ini berkiprah. Dan sudah ratusan masterpiece ia lahirkan dari tangannya. Sungguh sayang jika membiarkan karya-karya bernilai itu menganggur begitu saja menjadi katalog. Adalah Sony Music yang memprakarsai pembuatan sebuah album tribute untuk Ian Antono yang langsung mendapat dukungan antusias dari para musisi dan grup musik.




Eet sjahranie, pria yang sudah menikah ini lahir di Bandung, 3 Februari 1952. Orangtuanya memberi nama Zahedi Riza Sjahranie. Nyaris bungsu --anak ketujuh dari delapan bersaudara-- Eet kecil mulai tertarik dengan alat musik usia 5 atau 6 tahun. Wajar saja, keluarganya memang pecinta musik. Kakak-kakaknya adalah fans berat band macam Deep Purple, Jimi Hendrix, Led Zeppelin, The Beatles, hingga BeeGees.

Namun bukan karena itu, Eet kecil tertarik main gitar, justru karena Koes Plus-lah Eet tertarik belajar gitar. "Kayaknya seru lihat aksi Yok Koeswoyo di panggung," ujarnya mengingat masa kecilnya. Awalnya ia belajar gitar dengan seorang anak yang jadi yang juru parkir di depan sekolahnya di Kalimantan Timur, tempat keluarganya bermukim saat itu. Sehabis pulang sekolah, ia selalu mengajak sohib-sohibnya belajar gitar bersama. Sejak itu "secara alamiah saya belajar sendiri," tuturnya. Mulai dari lagu daerah, folksong, dangdut sampai lagu-lagu pop yang sedang populer saat itu ia coba untuk mencari akord-akordnya.
Selain itu, ada kenangan indah yang sering dialami Eet. Waktu kecil, ayahnya, Sjahranie -- pernah jadi Gubernur Samarinda 1967-1977 sering ke Jakarta mengunjungi kakaknya. Kebetulan sang kakak jago main gitar klasik. Kesempatan itu tidak disia-siakan Eet untuk mencuri ilmunya. "Lumayan ia mengajarkan satu lagu klasik," katanya
Keinginannya pun semakin menggebu ketika orangtuanya membelikan gitar elektrik. Berbeda yang ia alami saat memetik gitar akustik, dengan gitar elektrik ia mulai tahu sound-sound aneh. Refrensi musiknya sedikit demi sedikit mulai bertambah. "Orientasi saya tidak lagi dengar lagu-lagu Indonesia, tapi lagu-lagu barat. Kayaknya lebih asyik," tutur Eet.
Setelah boyongan ke Jakarta tahun 1978, Eet melanjutkan sekolah di Perguruan Cikini. Tahu Eet jago main gitar, teman-teman sekolahnya yang suka ngeband mengajaknya ikut Festival Band SLTA se-Jakarta. Tak disangka, Eet mendapat gelar gitaris terbaik, sedang Cikini's Band menduduki peringkat kedua.
Sempat melanjutkan sekolah musik di Amerika. Di negeri Paman Sam, Eet mengambil workshop recording sound engineering di Chillicote, Ohio selama tiga bulan. Selama di sana, ia banyak bertemu musisi Indonesia, yang juga sedang studi musik, antara lain, kawan lamanya Fariz RM dan Iwan Madjid, serta Ekie Soekarno. Pertemanan mereka berlanjut sampai di tanah air. Dalam beberapa kesempatan, Eet kerap diajak rekaman.
Eet juga membantu Fariz RM saat menggagas proyek album Barcelona. Selain itu ketika Ekie Soekarno membuat album Kharisma I dan Kharisma II, Eet juga terlibat. Jalannya makin terang saat bertemu Jockey Suryaproyogo kibordis God Bless-- yang mengajaknya masuk God Bless, menggantikan posisi Ian Antono, yang mengundurkan diri.
Kemudian, Eet malah ditawari produser rekaman untuk menggarap beberapa proyek album solo. Bukannya menggarap album solo, Eet malah menggandeng Ecky Lamoh karena suaranya yang khas. Tapi, Eet ingin format solo album dirubah menjadi duo. Titelnya "E dan E", singkatan dari Ecky Lamoh dan Eet Sjahranie. Namun, ditengah jalan, kedua musisi ini malah membentuk grup band. Fajar S. (drum) dan Iwan Xaverius (bas) yang sejak awal ikut merancang konsep album mereka, diajak bergabung. Jadilah namanya berubah menjadi EDANE.



Edo Widiz atau lebih dikenal dengan Edo Voodoo, merupakan salah satu gitaris terbaik terbukti dengan sering kali mengikuti festival dia dan bandnya mendapat prestasi yang cukup membanggakan. Semua itu dia dapat dengan latihan yang sangat keras pastinya, sejak tahun 1980 sudah mengikuti les atau kursus di Yamaha electone dan klasik. Sekarang pun Edo Widiz sudah menjadi pengajar tetap di Yamaha, kabarnya sudah mendapat jabatan Chief Electric di Yamaha pusat. Hasil karya solonya sudah dapat di dengar di kompilasi gitar klinik dengan judul Tarian Si Bambi.
Setelah beberapa album bersama Voodoo, kemudian band ini bubar dan sebagian personelnya termasuk Edo membentuk band baru bernama Opera. Namun setelah merilis album bersama Opera, pada bulan Mei tahun 2005 Edo keluar dari Opera.
Sekarang Edo masih sibuk dengan band lamanya setelah ia keluar dari Opera yaitu Voodoo. Menurutnya, ia keluar karena adanya perbedaan visi dengan personel lainnya. ia sekarang sedang mempersiapkan album selanjutnya bersama Voodoo.




Dewa Gede Budjana yang dilahirkan di Waikabubak, Sumba Barat, 30 Agustus 1963 ini, mulai melirik instrumen gitar saat masih duduk di bangku SD lewat seorang kuli bangunan asal Jawa yang mengontrak di depan rumahnya, di Bali. Sejak itu, putra almarhum IDN Astawa ini sangat terobsesi untuk menguasai permainan gitar. Hingga suatu saat, ia nekat mencuri uang neneknya untuk membeli sebuah gitar. Setelah itu, tak satu pun hari terlewat tanpa menjajal gitar dan melatih jari, mempraktekkan kunci-kunci nada. Pada 1976, saat mulai menetap di Surabaya, Budjana mulai kerap menyaksikan berbagai event musik hingga ia pun banyak kenal dengan musisi lokal. Karena merasa permainannya masih sangat terbatas, Budjana lantas mendalami gitar klasik.

Pada masa sekolah, pas kelas 1 SMP (1976) di Surabaya, pergaulan I Dewa Gde Bujana di dunia musik mulai liat. Lebih intens. Gitar listrik, Aria Pro II juga sudah dimilikinya pada 1981. Tiada hari tanpa musik. Ia pun bermain antara lain bersama Arie Ayunir, sekarang drummer POTRET. Dari acara-acara sekolah, mereka melangkah ke pentas nasional. Iseng-iseng berhadiah, tapi siap sedia! Ya siap, soalnya gitarnya saja sudah bikin sendiri. Musiknya dikroyok rame-rame, menjadi lebih idealis. Hasilnya? Ajang Light Music Contest 1984, babak final di Teater Terbuka-TIM, Jakarta. Pergelaran tahun kedua ini punya peserta kuat-kuat. Bagus dan hebat, karena ajang buatan Yamaha Music ini gengsinya tinggi, terutama di mata anak-anak band! Contohnya, EMS Bandung, asuhan susah payah Elfa Secioria. Gold Fingers yang klasikal dari Jakarta dengan kakak-beradik Mahesh dan Suresh Hotwani. Budjana ikut tampil, dengan bendera Squirrel Band-Surabaya yang dibentuk tahun 1980. Gitar dimodifikasi dengan design kreasi sendiri, fretless-guitar berbentuk bintang, bermusik eksperimental. Unik dan ajaib, buat sebagian penonton malam itu. Eh, Squirrel menang! Juara pertama lho.

Perlahan, kiblat musik Budjana pun mulai berubah. Ia tak lagi cuma mendengarkan musik pop dan rock, setelah mendengarkan permainan gitar John Mc Laughlin (Mahavishnu Orchestra). Bisa dibilang, musisi inilah yang mengubah visi bermusik Budjana, di samping Chic Korea, Yes, Gentle Giant, Kansas, Tangerine Dream, American Garage, Bright Size Life, Pat Metheny hingga Allan Holdsworth.

Pada 1984, Budjana membentuk band jazz Squirrell di sekolahnya, SMA II Surabaya. Dan setelah mereguk banyak pengalaman, ia pun hijrah ke Jakarta setahun kemudian. Di Jakarta, nasib mempertemukannya dengan dedengkot jazz Tanah Air, mendiang Jack Lesmana, ayah musisi Indra Lesmana. Lewat Jack, Budjana banyak menimba filosofi permainan musik jazz. Dari situ, bintangnya mulai bersinar. Budjana makin dikenal. Setamat studi di SMAN 2 Surabaya, Budjana hijrah ke Jakarta. Nekad. Asli! Ya berani mati deh, pengen bermusik saja lebih serius dan intensif. Mulai 1985, iapun memulai pengembaraannya di Jakarta.

Adalah Indra Lesmanalah yang kemudian mengajak Budjana masuk dunia rekaman sebagai session player. Beberapa tahun kemudian, Budjana bergabung dengan Spirit Band yang antara lain diperkuat Baron, mantan gitaris Gigi. Bersama Spirit, dia menghasilkan dua album, yaitu Spirit (’93) dan Mentari (1998). Setelah cabut dari Spirit pada 1993, bakat pengagum tokoh Mahatma Gandhi ini makin sering dimanfaatkan oleh berbagai kelompok musik, antara lain Jimmy Manopo Band, Erwin Gutawa, Elfa’s Big Band hingga Twilite Orchestra. Tahun itu juga, Budjana juga bergabung dengan Java Jazz yang antara lain diperkuat Indra Lesmana dan menghasilkan album Bulan di Atas Asia. Pada tahun yang sama, Budjana mengikuti perhelatan akbar musisi jazz dunia, “North Sea Jazz Festival” di Den Haag, Belanda.

Pada 1994, Budjana membentuk grup Gigi bersama Baron (gitar), Thomas (bas), Armand (vokal) dan Ronald (dram). Album- album yang dihasilkan bersama grup ini adalah AnganDunia (1995), 3/4 (1996), 2×2 (1997), Kilas Balik (1998), dan Baik (1999), Semua Umur, dan sebuah album religius Raihlah Kemenangan (1994),

Namun di sela kesibukannya bersama Gigi, Budjana juga menekuni proyek solonya dengan menelurkan album Nusa Damai pada awal 1997. Kemudian dilanjutkan juga dengan Gitarku (2000), dan Samsara (2003).



Sejak SMP Ivan sudah bisa bermain gitar. Ia sering melihat permainan gitar Lucky (nantinya gitaris Power Metal). Gitar pertamanya adalah merk Yamaha yang dibeli dengan harga Rp. 100.000 dimasa itu. Semenjak saat itu ia terus bermain gitar dan berniat untuk menjadi seorang gitaris rock.Ivan pun membentuk band bersama Henry yang bernama Radd. Kemudian Ivan sempat bergabung dengan beberapa band Surabaya seperti Buldozer. Kemudian bersama Big Panzer sempat merilis 2 single dalam album INDONESIAN ROCK & METAL produksi Harpa Records tahun 1990.

Pada tahun 1991, Ivan kembali lagi bertemu dengan Henry di group LOST ANGELS yang merupakan cikal bakal BOOMERANG. Demi memperoleh kontrak rekaman, ia bersama bandnya mengikuti Festival Rock Log Zhelebour pada tahun 1993. Penampilan ia dan rekan-rekan berhasil memancing perhatian sang produser Log Zhelebour pemilik label Loggis Records. Akhirnya Boomerang mendapatkan kontrak.

Bersama Boomerang telah merilis album-album berikut : Boomerang (1994), Kontaminasi OtakDisharmoni (1996), Segi Tiga (1998), Hard and Heavy (1999), X’travaganza (2000), Terapi Visi dan album baru di tahun 2005 Urbanoustic. Kini ia telah menjadi salah satu gitaris rock yang terpandang di Indonesia. Ciri khasnya adalah rambut kriting, gondrong, liar dipanggung, dan menenteng Gibson Les Paul. Menurutnya dalam bermain gitar ia selalu mencoba memahami bagaimana cara Jimi Hendrix bermain gitar yang menurutnya merupakan satu dari sedikit gitaris yang bisa bermain di luar kepala. Meski terkadang ia tidak sadar bahwa permainannya di lagu-lagu tertentu terinvasi pengaruh dari gitaris-gitaris idolanya. Hal itu diakui oleh Ivan sendiri. 1995,

Selain aktif bersama Boomerang, ia juga ikut membantu pembuatan album band-band lain seperti Sngkenken (grup hard core dari Surabaya), dan Black Forest (band alternatif ska). Dalam memilih gitar, ia juga termasuk gitaris yang maniak menggunakan Gibson Les Paul. Namun ia juga pernah dikontrak oleh Fender sebagai artis yang tampil dalam acara perayaan 50 tahun Fender Stratocaster di beberapa kota besar di Indonesia bersama gitaris-gitaris lainnya seperti Tjahyo Wisanggeni, Andry Franzy, Rama Satria, dll. Di acara itu ia menggunakan sebuah gitar Fender. Ia juga tampil dengan penampilan baru rambut re-bondingnya yang menurutnya membuat ia makin muda kembali.

Namun selain itu ia juga tampil cukup lain dalam album terbaru Boomerang. Ia yang dulu menginginkan musik Boomerang lebih keras lagi, kini malah menampilkan lagu-lagu yang lebih ballad dari sebelumnya. Mungkin hal itulah yang menjadi salah satu penyebab ia untuk memutuskan hengkang dari Boomerang.



AzizMS Sejak masih remaja memang sudah terinfeksi oleh musik-musik keras. Ia pun sempat terjerumus oleh gaya hidup musisi rock & roll (drugs). Sempat mendirikan band yang bernama Jam Rock bersama Ricky Tedy (bass) dan Budi Haryono (Ex.drumer Gigi), namun tak lama kemudian ia tinggalkan. Saking keasyikan main band sampai-sampai kuliahnya diterlantarkan. Azis sempat berkelana ke Bali dan bermain musik reggae. Namun setelah satu tahun, ia kembali pulang ke Cimahi dan menghidupkan kembali Jam Rock dengan menarik Krisyanto pada vocal.

Demo album yang ia gagas ditolak berbagai produser sampai akhirnya dilirk oleh kaisar rock Indonesia, Log Zehelebour. Album pertama Nekad dirilis pada tahun 1996. Dilanjutkan dengan album Putri (1997), Terima Kasih (1998). Mulai saat itu, album-album Jamrud mampu bersaing di kancah musik nasional. Puncak kejayaan Jamrud adalah pada tahun 2000 akhir ketika Jamrud mencapai kesuksesan terbesar sepanjang sejarah karirnya dengan berhasil menembus angka penjualan 2 juta keping untuk album Ningrat. Hal tersebut membuat produser Log Zhelebour memberangkatkan Azis cs ke Australia untuk proses penggarapan album berikutnya, Sydney 09.01.02.

Selama berkiprah didunia musik ia cenderung tak pernah berganti-ganti alat musik. Hanya satu kali saat ia mencoba menggunakan Ibanez JEM flower yang salah satu pick upnya adalah Dimarzio Tone Zone. Sejak saat itu ia selalu menggunakan gitar tersebut, namun karena bobotnya cukup berat ia kembali menggunakan Steinberger selain karena ringan juga postur yang menarik. Ia lebih memilih menggunakan efek digital jenis Korg AX-1000 karena memang biasanya efek digital lebih mudah disetting dan memiliki sound yang gahar. Bila menyimak permainan Azis memang lebih mengutamakan sound gahar dan power chord. Namun ia juga sering mencampur-campurkan ritem gitar gaya reggae, pop, dan gaya “kondangan” seperti yang terdengar dalam lagu Surti-Tedjo

Selain sebagai personel dan motor grup Jamrud, Azis juga ikut serta menangani pembuatan album terbaru Nicky Astria. Di album itu terlihat sekali warna Azis MS, berbeda ketika pada era Nicky Astria ditangani oleh Ian Antono, warna God Bless cukup terasa pada album-albumnya. Ini membuktikan bahwa Azis memiliki sebuah karakter yang membangun bandnya. Prestasi Azis lainnya adalah saat mendapat kehormatan mendampingi konser band rock legendaris dunia White Lion pada tahun 2003 dan grup heavy metal legendaris dunia Helloween pada tahun 2004.

Sumber:http://mryapan.blogspot.com/search/label/Gitaris

Senin, 08 Juni 2009

crOmok


Kumpulan CROMOK merupakan sebuah kumpulan rock metal Inggeris Malaysia yang ditubuhkan pada 1987. Mereka adalah terdiri dari empat orang pelajar Malaysia yang menuntut di University of Wollongong di Sydney, Australia. Ahlinya terdiri daripada Sam (Vocalist+Bassist), Din (Vocalist+Guitarist), Karl (Guitarist) dan Miji (Drummer).

Sekembalinya ke tanahair, tiga dari mereka kecuali Din yang masih belum tamat pengajian telah menandatangani perjanjian dengan Valentine Records dan telah mengedarkan album Image of Purity yang dirakamkan sewaktu mereka masih berada di luar negara. Walaupun peminat muzik tanah air masih janggal dengan lahirnya sebuah band trash metal, album tersebut mendapat sambutan menggalakan sehingga terjual lebih 70,000 unit. Lagu 'Metallurgical' yang mengabungkan intro lagu tradisional 'Ulek Mayang' menjadi lagu paling menarik dan digilai peminat ketika itu.

CROMOK kemudiannya menyertai EMI Record pada tahun 1993 bagi mengembangkan lagi sayap mereka. Album 'Forever In Time' merupakan album paling berjaya CROMOK dan terjual melebihi 100,000 unit. Album ini disifatkan lebih kepada metal kemelayuan.

CROMOK seterusnya mengeluarkan album 'Yours Truly' pada tahun 1996, Mean, Meaner, Meanest (1999), Re-release Image of Purity (2000), What's Left (2000), Deafening Silence (2002), Engrave in Eternity (kompilasi 2003), Untitled (2004), Untitled + raw (2005) dan The Great : Metal Manifest (2006).

Namun, pada tahun 2001 dengan rasminya Karl telah menarik diri dari menganggotai CROMOK atas masalah kerjaya dan keluarga. Pengganti Karl pula bukan calang-calang gitaris tetapi Hillary Ang yang mempunyai pengalaman bertahun-tahun dalam muzik. Hillary pernah menyertai kumpulan SEARCH dan menjadi pemuzik undangan bagi artis ternama yang lain. Beliau sebenarnya telah bekerjasama dengan CROMOK sejak album 'Mean, Meaner, Meanest' tahun 1999. Hujung tahun 2006, Hillary kembali menyertai Kumpulan SEARCH.

Kewujudan D'CROMOK

Apabila Din menamatkan pengajian, atas sebab-sebab peribadi dia telah menubuhkan kumpulannya sendiri dan tidak menyertai CROMOK. Kumpulannya bernama D'CROMOK. Huruf 'D' pada pangkal perkataan CROMOK sebenarnya bermaksud Din, ataupun din telah merakamkan album bertajuk 'VII Years VII Days' bersama Valentine Records pada tahun 1995. Dalam Album itu, dia berganding dengan Muhammad Syahmi dari Muar,Johor.

Din bertugas sebagai jurutera di Petronas Kemaman, Terengganu kemudiannya jatuh sakit dan meninggal dunia akibat demam malaria. Maka berakhirlah riwayat Din dan D'CROMOK.

Ahli

  1. Sam - Vocalist, Bassist
  2. Din - Vocalist, Guitarist
  3. Miji - Drummer
  4. Karl - Guitarist
  5. Hillary Ang - Guitarist


Diskografi

Album

  1. Image of Purity (1990)
  2. Forever In Time (1993)
  3. Yours Truly (1996)
  4. Mean Meaner Meanest (1999)
  5. Image of Purity (2000) - Re-release
  6. What's Left (2000)
  7. Deafening Silence (2002)
  8. Engrave in Eternity (kompilasi 2003)
  9. Untitled (2004)
  10. Untitled+Raw (2005)
  11. The Great : Metal Manifest (2006)


Lagu-lagu

  1. Another You
  2. Error
  3. Eclipse
  4. Farewell
  5. I Do
  6. I Don't Belong Here
  7. Journey
  8. Little One
  9. Maram Perapu Kepunden Paran Sekeper
  10. Metallurgical
  11. Memories
  12. Misty
  13. Misery
  14. Obsessed
  15. Pip
  16. Punishment Hour
  17. Sibling
  18. Seedling
  19. Somewhere Anywhere
  20. Suffer
  21. Stranger
  22. The Gift
  23. The Ulek
  24. Unicorn

Pautan luar

Sumber:http://ms.wikipedia.org/wiki/Kumpulan_Cromok

aLat MusiK nya kReN" brO......
































































Roland GW-8 Music Workstation Keyboard

Roland JUNO-D 61-Key Synthesizer